FITHRAH PASCA FITRI
Ramadhan telah berlalu. Diskon besar persembahan Allah telah meninggalkan umat manusia. Selama sebulan penuh kita mengikuti kampus Ilahi dengan kurikulum al-Qur’an dan Hadits. Sarana prasarana cukup memadai, yaitu dibukanya pintu surga, ditutupnya pintu neraka, dan dibelenggunya syaithan. Rasulullah bersabda:
إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِيْنُ
“Apabila datang Ramadhan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu.” [HR. Bukhari dan Muslim].
Begitu pula door prize-nya juga cukup nyata, tersimpan aman di sisi Allah. Rasulullah bersabda,
قَالَ اللَّهُ كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلاَّ الصِّيَامَ ، فَإِنَّهُ لِى
“Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Setiap amalan manusia adalah untuknya kecuali puasa. Amalan puasa adalah untuk-Ku.”[HR. Bukhari]
Dalam riwayat lain:
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى ...
“Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipat gandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat.
Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku....” [HR. Muslim]
Tidak salah jika kemudian selama sebulan karantina spiritual menjadi titik fokus hingga tercapai suatu ke-fithrah-an kolektif, terampuninya dosa-dosa yang berlalu.
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Siapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan dalam keadaan iman dan mengharapkan pahala, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]
Meski demikian, waktu terus berputar dan kita tidak boleh lengah berada dalam ratapan pudarnya pesona ramadhan. Kehidupan pasca fitri harus tetap dijaga karena tanda diterimanya amal puasa adalah adanya perubahan tingkah laku manusia menuju perbaikan pasca ramadhan. Dan sebagus apapun amal ramadhan jika setelahnya tidak di lanjutkan, maka perlu dipertanyakan ke-maqbulan-nya.
Jika dalam ramadhan shalat sunnah semangat kita kerjakan, maka mari kita langgengkan di pasca ramadhan ini. Jika dalam ramadhan dzikir selalu berkomat-kamit menghiasi bibir, maka mari kita langgengkan di pasca ramadhan ini. Jika dalam ramadhan sedekah menjadi pergerakan tiap tangan, maka mari kita langgengkan di pasca ramadhan ini. Dan jika amal kebajikan lain menjadi sangat mudah dan ringan maka mari kita budayakan.
Selain itu, fithrah di pasca fitri juga harus dijaga dari keratan-keratan hati. Gosip yang selama ramadhan kita tutup rapat-rapat dalam tong sampah, jangan kita tengok lagi. Yakinlah bahwa itu adalah kotoran yang tidak layak kita ambil. Rasa takabbur yang selama ramadhan telah kita kembalikan kepada Allah, maka janganlah kita rampas lagi. Yakinlah bahwa yang berhak membawa jubah kebesaran hanyalah Allah. Manusia sungguh terlalu kecil dan hina, tidak pantas memakai jubah kebesaran Allah.
Rasa dengki sebagai embrio pemicu petaka dan disharmoni kehidupan yang telah kita lempar jauh-jauh ke dalam jurang kegelapan, janganlah kita cari lagi. Biarkan kegelapan menyelimutinya. Dan ambillah jalan terang di depan sehingga tidak ada lagi gelap mata dan hati karena merasa bagian rizqinya di ambil tetangga atau sanak keluarga. Yakinlah, jika Allah telah menakar seatom rizqi bagi kita, ia tidak akan jatuh kebumi selama belum melalui telapak tangan kita. Dan yakinlah pula bahwa rizqi orang lain tidak akan pernah berhenti bergejolak sebelum ia diterima pemiliknya. Jika ternyata kebetulan singgah di tangan kita, yakinlah bahwa itu hanya sementara dan akan berpindah kepada yang berhak memilikinya.
Jika selama ramadhan rasa sum’ah dan riya’ selalu kita tinggalkan di belakang kehidupan, maka janganlah kita tengok lagi masa lalu. Biarkan ia menjadi kilasan dan cerita masa lalu. Tataplah masa depan penuh kecerahan agar kita menjadi makhluk yang bermartabat. Masa lalu tidak mungkin terjadi dalam dimensi kekinian kecuali ia diputar kembali ceritanya. Yakinlah bahwa hanya Allah satu-satunya Dzat yang berhak menerima ibadah kita, bukan Istri, Suami, Anak, Ibu, Bapak, Saudara, Mertua, apalagi tetangga. Haihata tsumma haihata.
Sekali lagi, ramadhan telah berlalu. Hari fithrah telah mendatangi. Jangan sampai pesonanya pudar di pasca idul fitri ini. Semoga kita semua bisa menjaga fithrah pasca fitri. Amin.
Langitan, 1 Syawal 1432 H.
Muhammad Hasyim
Penulis adalah Wakil Rais Amm
Ponpes Langitan Widang Tuban Jatim
إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِيْنُ
“Apabila datang Ramadhan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu.” [HR. Bukhari dan Muslim].
Begitu pula door prize-nya juga cukup nyata, tersimpan aman di sisi Allah. Rasulullah bersabda,
قَالَ اللَّهُ كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلاَّ الصِّيَامَ ، فَإِنَّهُ لِى
“Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Setiap amalan manusia adalah untuknya kecuali puasa. Amalan puasa adalah untuk-Ku.”[HR. Bukhari]
Dalam riwayat lain:
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى ...
“Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipat gandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat.
Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku....” [HR. Muslim]
Tidak salah jika kemudian selama sebulan karantina spiritual menjadi titik fokus hingga tercapai suatu ke-fithrah-an kolektif, terampuninya dosa-dosa yang berlalu.
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Siapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan dalam keadaan iman dan mengharapkan pahala, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]
Meski demikian, waktu terus berputar dan kita tidak boleh lengah berada dalam ratapan pudarnya pesona ramadhan. Kehidupan pasca fitri harus tetap dijaga karena tanda diterimanya amal puasa adalah adanya perubahan tingkah laku manusia menuju perbaikan pasca ramadhan. Dan sebagus apapun amal ramadhan jika setelahnya tidak di lanjutkan, maka perlu dipertanyakan ke-maqbulan-nya.
Jika dalam ramadhan shalat sunnah semangat kita kerjakan, maka mari kita langgengkan di pasca ramadhan ini. Jika dalam ramadhan dzikir selalu berkomat-kamit menghiasi bibir, maka mari kita langgengkan di pasca ramadhan ini. Jika dalam ramadhan sedekah menjadi pergerakan tiap tangan, maka mari kita langgengkan di pasca ramadhan ini. Dan jika amal kebajikan lain menjadi sangat mudah dan ringan maka mari kita budayakan.
Selain itu, fithrah di pasca fitri juga harus dijaga dari keratan-keratan hati. Gosip yang selama ramadhan kita tutup rapat-rapat dalam tong sampah, jangan kita tengok lagi. Yakinlah bahwa itu adalah kotoran yang tidak layak kita ambil. Rasa takabbur yang selama ramadhan telah kita kembalikan kepada Allah, maka janganlah kita rampas lagi. Yakinlah bahwa yang berhak membawa jubah kebesaran hanyalah Allah. Manusia sungguh terlalu kecil dan hina, tidak pantas memakai jubah kebesaran Allah.
Rasa dengki sebagai embrio pemicu petaka dan disharmoni kehidupan yang telah kita lempar jauh-jauh ke dalam jurang kegelapan, janganlah kita cari lagi. Biarkan kegelapan menyelimutinya. Dan ambillah jalan terang di depan sehingga tidak ada lagi gelap mata dan hati karena merasa bagian rizqinya di ambil tetangga atau sanak keluarga. Yakinlah, jika Allah telah menakar seatom rizqi bagi kita, ia tidak akan jatuh kebumi selama belum melalui telapak tangan kita. Dan yakinlah pula bahwa rizqi orang lain tidak akan pernah berhenti bergejolak sebelum ia diterima pemiliknya. Jika ternyata kebetulan singgah di tangan kita, yakinlah bahwa itu hanya sementara dan akan berpindah kepada yang berhak memilikinya.
Jika selama ramadhan rasa sum’ah dan riya’ selalu kita tinggalkan di belakang kehidupan, maka janganlah kita tengok lagi masa lalu. Biarkan ia menjadi kilasan dan cerita masa lalu. Tataplah masa depan penuh kecerahan agar kita menjadi makhluk yang bermartabat. Masa lalu tidak mungkin terjadi dalam dimensi kekinian kecuali ia diputar kembali ceritanya. Yakinlah bahwa hanya Allah satu-satunya Dzat yang berhak menerima ibadah kita, bukan Istri, Suami, Anak, Ibu, Bapak, Saudara, Mertua, apalagi tetangga. Haihata tsumma haihata.
Sekali lagi, ramadhan telah berlalu. Hari fithrah telah mendatangi. Jangan sampai pesonanya pudar di pasca idul fitri ini. Semoga kita semua bisa menjaga fithrah pasca fitri. Amin.
Langitan, 1 Syawal 1432 H.
Muhammad Hasyim
Penulis adalah Wakil Rais Amm
Ponpes Langitan Widang Tuban Jatim
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar