SIAPAKAH DIANTARA KITA YANG SELAMAT?

Setiap orang atau kelompok pasti selalu menginginkan kebahagiaan, ketentraman, kenikmatan dan terhindar dari segala marabahaya baik dari skala kecil maupun skala besar, di duia atau di akhirat. Karena itu segala upaya akan dilakukan demi tercapainya suatu kebahagiaan dan sirnanya segala keburukan.

Kesengsaraan tidaklah seberapa, yang menjadi masalah adalah selamatkah kita di akhirat kelak, dan dimanakah sekarang kita berada, apakah berada di golongan yang selamat atau di golongan yang sesat. Mengingat banyaknya kelompok dalam agama islam.
Rosulullah bersabda yang artinya “kaum yahudi terpecah menjadi 71 golongan, kaum nasrani terpecah menjadi 72 golongan, kemudian umatku akan terpecah menjadi 73 golongan.”

Apa yang di sabdakan aleh Rosulullah benar-benar terjadi setelah beliau wafat, embrio-embrio perpecaha mulai tampak, dimulai dari periode sahabat, hanya saja tidak sampaii menyentuh ruang akidah karena konflik diantara mereka hanya berkiasr pada permasalahan parsial. Namun pada periode akhir khulafaur rosyidin konflik yang berlangsung sudah mulai masuk kewilayah akidah. Dimulai dengan munculnya kelompok ekstrim yaitu khawarij yang dengan terang-terangan membangkang kepada pemerintahan yang sah setelah ditetapkan oleh kaum muslimin.

Kelompok ini muncul karena ketidak puasan mereka terhadap keputusan tahkim(arbitrate) yang terpaksa di ambil oleh sayyidina Ali Karamallahu Wajhah karena terjadi perselisihan didalam pasukan beliau tatkala Amr bin Ash mengangkat Mushaf (Quran) ketika pasukan Muawiyah mulai terdesak.

Kaum khawarij telah sepakat mengkafirkan Sayyidina Ali KW, Thalhah dan Sayydatina A’isyah. Mereka juga menghukumi kafir bagi siapapun yang telah melakukan dosa besar. Tidak hanya sampai disitu mereka juga menghalalkan darah, harta kaum muslimin diluar golongan mereka dan memboyong wanita-wanitanya, tindakan mereka ini sungguh jauh dari ajaran Rasulullah SAW.

Disamping itu muncul juga golongan yang fanatik kepada sayyidina Ali KW yaitu Syi’ah, hingga mereka menafikan keabsahan kekholifahan sayyidina Abu Bakar, Umar, dan Usman. Tidak hanya itu mereka juga mengatakan ketiganya adalah orang yang merampas hak Sayyidina Ali KW sebagai pewaris Rasulullah SAW.

Sebenarnya embrio kelompok ini adalah berasal dari intigasi (hasutan) Abdullah bin Saba, seorang yahudi yang berpura-pura masuk islam yang mempunyai tujuan untuk menghancurkan islam. Dan dia jugalah peletak teori Imamah dengan sistem wasiat. Terlalu fanatiknya mereka kepada Sayyidina Ali KW sampai berkata bahwa Malaikat Jibril keliru dalam menyampaikan wahyu, mestinya yang diberi wahyu adalah Ali KW bukan kepada Nabi Muhammad SAW. Kelompok ini juga tidak sesuai dengan ajaran Rasulullah SAW, karena mereka telah membenci dan melaknati orang-orang yang dicintai Rasulullah.

Setelah Khawarij dan Syiah, muncul lagi golongan baru pada periode Tabi’in yang lebih mengedepankan Rasio (akal) yaitu golongan mu’tazilah. Kelompok ini didirikan oleh Washil bin Atho’ abu Hudzaifah al-bashri al gozzal (80-131 H). Sebenarnya Washil adalah murid Hasan al-Bishri Ra. Tapi dia tergolong murid yang mempunyai pemikiran yang sangat liar dan rasional. Hingga pada akhirnya dia terang-terangan mengungkapkan pendapatnya ketika gurunya ditanya seseorang tentang suatu mas’alah, kemudian dia berdiri menyingkir ketiang masjid meninggalkan majlis gurunya sehingga kelompoknya diberi namaMu’tazillah.

Orang-orang mu’tazilah sepakat kalau Allah merupakan Makhluk, berada pada sebuah tempat, berupa huruf dan suara. Mereka juga sepakat bahwa kelak di akhirat tidak bisa dilihat dengan mata telanjang. Pengaruh aliran ini menguat pada zaman Abbasiyah. Kususnya pada zaman al-ma’mun (198-218 H) al-mu’tashim (218-228 H) dan al-watsiq (228-233 H) yang menjadikan mu’tazillah sebagai Faham resmi negara yang dilindungi pemerintahan. Kelompok ini juga tidak sesuai dengan ajaran Rasulullah SAW karena pemikirannya yang liar.

Doktrin mu’tazilah yang rasionalis-filosofis amatlah sukar diterima masyarakat awam, mereka lebih suka ajaran-ajaran yang sederhana yang sejalan dengan sunnah Rosulullah dan tradisi para sahabat melihat hal ini al-mutawakil selaku pengganti al-watsiq yang tentunya butuh dukungan besar dari masyarakat akhirnya membatalkan faham mu’tazilah yang sebelumnya telah menjadi faham negara.

Tiga kelompok diatas tidak ada yang sesuai dengan toriqoh Rasulullah, lalu siapakah kelompok yang selamat itu?. Ketika Rasulullah ditanya, “siapakah satu golongan yang selamat itu?” maka Beliau menjawab dengan kalimat yang simple. “yaitu orang yang mengerjakan tingkah lakuku saat ini, dan para sahabatku.”

Sebagaimana hadist yang artinya “maka bahwasanya siapa yang hidup (lama) diantaramu, niscaya akan melihat perselisihan (faham) yang banyak. Ketika iru peganglah sunnahku dan sunah khulafaur rosyidin yang diberi hidayah. Pegang teguhlah itu dan gigitlah dengan gigi gerahammu.”

Mereka adalah kelompok ahlus sunnah wal jamaah yaitu orang-orang yang menganut ajaran islam yang murni sebagaimana yang diajarkan dan diamalkan oleh Rosulullah dan sahabat-sahabatnya.dalam bidang teologi kelompok ASWAJA (Ahlusunnah Wal Jamaah) mengikuti imam abu hasan al-asyari (260-324 H) dan abu mansur al-asy’ari (268-303 H) dalam bidang Fiqh mengikuti Imam Abu Hanifah (Al-Hanafi) Imam Malik Bin Anas (Al-Maliki) imam Syafi’i (AS-Syafi’i) imam ahmad bin hambal (Al-Hambali) dan dalam bidang tasawuf mengikuti imam ghozali dan abu al-Qosim al-junaidi”

Kelompok ASWAJA ini selalu berpedoman pada prinsip “at- tawashut atau syntetisme” yaitu jalan tengah yang meliputi sikap at-Tawazun keseimbangan hukum berpapasan, harmonisiasi) al-i’tidal (tegak lurus, lepas dari penyimpangan ke kanan dan ke ke kiri) dan al-iqtishod (sederhana menurut keperluan, wajar dan tidak berlebihan).
By: Ahmad Alawy Tsauban kelas 3 MAF

0 komentar:

Posting Komentar

IndoBoClub